Pertanyaan: Saya membaca di berita, lagi-lagi Indonesia akan impor garam. Kenapa bisa begitu? Bukankah ini akan memukul petani garam?

Jawaban: Garam yang dimaksud akan diimpor Indonesia pada awal tahun 2018 ini adalah garam industri, jauh berbeda dengan kebanyakan garam yang dihasilkan petani garam di Indonesia, yaitu garam konsumsi. Garam industri bukanlah yang disajikan sehari-hari di meja makan, namun khusus digunakan untuk keperluan industri. Garam ini belum bisa disediakan oleh petani garam Indonesia.

Pertanyaan: Tapi kenapa baru di masa Jokowi Indonesia mengimpor garam?

Jawaban: Tidak benar hanya di masa Jokowi. Selama ini Indonesia memang tiap tahun mengimpor garam industri karena kita belum bisa menghasilkan sendiri sesuai kebutuhan.

Pertanyaan: Bukankah kita negara kelautan yang pantainya panjang? Harusnya kan bisa memproduksi banyak garam?

Jawaban: Salah kaprah karena tidak semua pantai bisa memproduksi garam. Kebanyakan pantai di Indonesia kandungan airnya tinggi sehingga tidak bisa digunakan untuk memproduksi garam. Madura dan NTT adalah contoh pantai yang kandungan garam dan airnya memungkinkan untuk dipanen sebagai sumber bahan baku garam.

Sumber bahan baku garam utama di dunia sebenarnya bukan pantai, namun bekas danau purba yang mengering dan meninggalkan endapan garam yang tebal. Ini memungkinkan dibuatnya tambang garam yang menghasilkan garam dengan kandungan NaCl yang tinggi, contohnya di Australia dan Salburg, Austria.

Silakan lihat contoh tambang garam Australia di sini: http://konstelasi.com/tambang-garam-di-australia-yang-tampak-bukan-seperti-di-bumi/

Pertanyaan: Apa itu garam industri?

Jawaban: Garam industri adalah garam khusus dengan kadar NaCl 97,4 persen. Kadar magnesium dan airnya juga rendah. Pengguna garam industri adalah industri chlor alkali plant (CAP), farmasi, dan Industri Non CAP seperti perminyakan, pengasinan ikan, kulit, tekstil, sabun dan lain-lain.

Silakan baca langsung keterangan di sini: http://www.tribunnews.com/bisnis/2018/02/06/apa-itu-garam-industri-apa-bedanya-dengan-garam-konsumsi-ini-penjelasan-dari-maritime-society

Pertanyaan: Apa bedanya dengan garam konsumsi?

Jawaban: Garam konsumsi memiliki kandungan NaCL di bawah 97,4%, kadar magnesium dan airnya lebih tinggi. Garam ini yang sering disajikan untuk konsumsi.

Pertanyaan: Apakah dijamin garam industri tidak bisa langsung masuk ke pasaran menjadi garam konsumsi?

Jawaban: Tidak bisa semudah itu, karena karakternya yang berbeda. Untuk bisa menjadi garam konsumsi, harus mengandung kadar iodium yang tinggi, yang sulit dipenuhi garam industri bila tidak diperkaya dulu. Selain itu nilai tambah yang didapat industri dengan mengolah garam industri jauh lebih besar dibanding jika menjualnya menjadi garam konsumsi.

Pertanyaan: Tapi tidak adakah usaha untuk kita bisa memenuhi kebutuhan garam industri?

Jawaban: Ada, NTT nantinya akan menjadi salah satu pusat produksi garam yang bisa memenuhi kebutuhan garam industri, namun saat ini masih dalam proses pembangunan sebelum mencapai kapasitas maksimal.

Silakan baca informasinya di: http://www.kemenperin.go.id/artikel/14700/PT-Garam-dan-Cheetham-Dapatkan-Lahan-di-NTT

 

 

Advertisements