Pertanyaan: Saya mendengar tahun ini Indonesia di bawah kepemimpinan Jokowi akan impor jagung yang akan memukul harga jagung petani. Benarkah?

Jawaban: Tidak benar. Jagung yang diimpor adalah jenis dent corn (gigi kuda). Jagung ini bukan untuk konsumsi. Namun khusus kebutuhan industri yang belum bisa dipenuhi oleh petani kita.

Silakan baca sumber informasinya di sini: 

http://mediaindonesia.com/news/read/144380/impor-jagung-untuk-dukung-ekspor-mamin/2018-02-08

Pertanyaan: Tapi benarkah baru pada masa Jokowi ini dilakukan?

Jawaban: Hoax! Impor jagung dent corn sudah dilakukan sejak dulu karena jarang diproduksi petani Indonesia dan kurang cocok ditanam di Indonesia karena tidak tahan hama. Jagung ini banyak diproduksi Amerika Serikat, Meksiko, dan Eropa. Sementara yang banyak ditanam di Indonesia adalah jagung mutiara (flint corn). Jadi seharusnya tidak banyak berpengaruh terhadap harga jagung petani Indonesia.

Silakan baca sumber informasinya di sini:

https://piencoex.wordpress.com/2015/03/31/botani-jagung/

Pada tahun 2013, bahkan impornya mencapai 2,8 juta ton, dibandingkan 171.660 ton pada 2018.

Silakan baca sumber informasinya di sini:

http://industri.kontan.co.id/news/impor-jagung-pakan-ternak-akan-melonjak-86

Pertanyaan: Apa itu dent corn?

Jawaban: Dent corn atau lebih dikenal sebagai jagung gigi kuda adalah jenis jagung yang bijinya seperti gigi kuda dengan lekukan yang khas pada bagian atas. Lekukan ini terjadi pada saat biji mengering yang disebabkan oleh pengkerutan lapisan tepung yang lunak pada bagian tersebut. Warna biji ada yang kuning, putih dan merah. Berikut gambar dent corn dari Wikipedia:

Screen Shot 2018-02-28 at 11.09.02 PM.png

Silakan buka infonya di: https://en.wikipedia.org/wiki/Dent_corn

Pertanyaan: Tapi bagaimana dengan klaim bahwa Indonesia sudah swasembada jagung oleh Menteri Pertanian?

Jawaban: Seperti juga beras, tidak mungkin segala jenis jagung diproduksi Indonesia, karena ada jenis jagung dan beras khusus yang tidak tumbuh atau ditanam Indonesia. Beras dan jagung khusus tetap harus diimpor karena tidak tersedia di dalam negeri.

Namun secara umum, produksi jagung saat ini mulai melewati kebutuhan. Pada tahun 2016, misalnya 23,2 juta ton, dibanding 2015 yang hanya 19,6 juta ton. Sementara kebutuhan jagung hanya di angka 13,8 juta ton.

Jadi swasembada tidak bisa dicap gagal hanya karena ada sebagian kecil beras dan jagung tertentu yang masih diimpor.

Silakan baca sumber informasinya di sini:

http://agroindonesia.co.id/2017/01/mengantisipasi-surplus-jagung/

http://bisnis.liputan6.com/read/2386889/kebutuhan-jagung-nasional-capai-138-juta-ton-di-2016

Advertisements