hoaxPertanyaan: Saya melihat bahwa serial 66 Janji Jokowi yang salah satunya membongkar ingkar janjinya Jokowi akan menjadikan dollar Rp 10.000. Benarkah?

Jawaban: Hoax! Jokowi tidak pernah menjanjikan, apalagi memasukkan dalam kampanyenya bahwa dollar akan berharga Rp 10.000. Tidak mungkin hal seperti itu dijanjikan karena ada banyak sekali faktor yang menentukan kurs valuta asing. Itu adalah pelintiran media massa yang membuat hasil analisa seorang ekonom seolah menjadi janji Jokowi, yang kemudian diulang-ulang oleh haters.

Pertanyaan: Dari mana awal sumber pemberitaan tersebut?

Jawaban: Berita tersebut kami cek pertama kali dilansir oleh Tempo. Tempo memberitakan dengan headline yang ambigu “Jokowi Jadi Presiden, Rupiah Bisa Tembus 10 Ribu,” tanpa menyebutkan siapa yang menyebutkan analisa seperti itu. Jika diklik dari link ini:

https://bisnis.tempo.co/read/556888/jokowi-jadi-presiden-rupiah-bisa-tembus-10-ribu

Bisa dengan mudah dibaca di dalam isi beritanya bahwa analisa tersebut disampaikan oleh Kepala Ekonom Samuel Aset Manajemen, Lana Soelistianingsih. Berita tersebut memuat analisa Lana Soelistianingsih:

Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo bisa memenangi pemilu presiden pada Juli mendatang, maka nilai tukar (kurs) rupiah akan menguat signifikan. Dia memperkirakan penguatan akan sangat tajam bahkan bisa mencapai level Rp 10 ribu per dolar Amerika Serikat.

Pertanyaan: Bagaimana bisa Lana Soelistianingsih membuat analisa seperti itu?

Jawaban: Lana membuat analisa berdasarkan kondisi jauh sebelum pelaksanaan Pemilu 2014 (sekitar bulan Juli), di mana kurs bertengger di angka Rp 11.792 per Dollar Amerika Serikat.

Lana menyatakan bahwa jika Pemilu 2014 berjalan aman, maka kurs rupiah bisa menguat ke angka Rp 10.800, dengan asumsi PDIP menang telak di pemilu legislatif dengan lebih dari 20 persen suara, sehingga mampu mengajukan calon presiden sendiri. Lalu Jokowi memenangkan Pilpres dengan mudah, sehingga tercipta kestabilan politik luar biasa, karena presiden didukung oleh suara yang kuat dari satu partai di parlemen.

Nyatanya, kondisi yang disyaratkan oleh Lana sama sekali tidak kejadian. PDIP tidak memenangkan suara 18,95 persen. Jokowi mau tak mau harus didukung oleh koalisi beberapa partai, dan menghadapi Pilpres dengan kemenangan hanya tipis saja. Saat memulai pemerintahan, kubu oposisi menyatukan suara dalam Koalisi Merah Putih. Sesuatu yang tidak lazim dilakukan oleh oposisi dalam sistem pemerintahan Indonesia.

Akibatnya secara politik, pemerintahan periode pertama Jokowi, terutama di awal masa kepemimpinan, tidak terlalu stabil. Ini berdampak kepada ekonomi, berkebalikan dengan prediksi Lana. Sementara itu dalam lingkup internasional, terjadi perang dagang antara China dan Amerika Serikat yang turut menguatkan dollar. Jadi sangat wajar jika analisa Lana bahwa dollar akan menjadi Rp 10.000 jika Jokowi presiden tidak terbukti.

Sekali lagi, itu adalah hasil analisa seorang Lana Soelistianingsih, bukan janji kampanye Jokowi.

Advertisements