ibu-lis.jpg

Pertanyaan: Saya mendengar saat debat, Sandiaga Uno mengklaim bahwa seorang rakyat kecil bernama Ibu Lis mengadu kepadanya kalau ia tidak mendapatkan coverage BPJS untuk penyakitnya. Benarkah?

Jawaban: Hoax! Dari segi nama saja Sandiaga sudah keliru. Nama Ibu tersebut adalah Ibu Niswati, bukan Ibu Liswati. Beliau guru honorer berumur 44 tahun yang tinggal di Dukuh Babadan RT 008/RW 002, Desa Bentak, Kecamatan Sidoharjo, Sragen. Nama lengkapnya Niswatin Naimah.

Sumber: https://soloraya.solopos.com/read/20190319/491/979141/disebut-sandiaga-uno-saat-debat-cawapres-ini-sosok-niswatin-asal-sragen

Terkait tudingan perawatan sakit kanker yang ditolak pembayarannya, BPJS Kota Surakarta sudah mengklarifikasi bahwa Bu Niswati adalah pemegang Kartu Indonesia Sehat dan seluruh perawatannya sudah ditanggung gratis.

“Kami sudah melakukan pengecekan data dan berkoordinasi dengan peserta maupun pihak rumah sakit. Hasilnya, Ibu Nis mendapatkan haknya sebagai peserta Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS),” kata Kepala BPJS Kesehatan Cabang Surakarta Bimantoro kepada detik.

Bahwa obat yang diinginkan oleh Bu Niswati untuk penyakitnya, herceptin alias trastuzumab, dari analisa pengecekan laboratorium tidak terlihat tanda bahwa kankernya merupakan tipe HER2 Positif dan bukan tipe kanker metastasis, sehingga tidak memenuhi syarat untuk diberikan herceptin, selain juga memang tidak banyak pengaruh obat tersebut terhadap kesembuhan.

“Sesuai indikasi medis dan restriksi Formularium Nasional, pasien belum dapat diresepkan obat Herceptin karena obat ini untuk penderita kanker payudara metastasis dengan pemeriksaan HER2 positif, sementara Niswatin masih belum ke arah itu,” Jelas Bimantoro

Sumber: https://news.detik.com/berita/d-4473477/klarifikasi-bpjs-soal-ibu-nis-yang-disebut-sandiaga-tak-di-cover-bpjs

Pertanyaan: Tapi apakah benar herceptin tidak dicover BPJS?

Jawaban: Dulu, April 2018, BPJS sempat mengeluarkan herceptin dari obat-obatan yang ditanggung oleh BPJS. Namun kemudian langkah ini digugat oleh pasien kanker karena dikeluarkannya Permenkes No 22 tahun 2018.

Melalui mediasi damai di pengadilan negeri Jakarta Selatan, akhirnya BPJS setuju untuk mengembalikan herceptin dalam coverage asuransi, dengan syarat memenuhi aturan dan batasan yang dikeluarkan oleh Permenkes tersebut, yaitu hanya untuk penderita kanker yang metastasis dan HER2 Positif.

 

 

 

 

 

Advertisements